Kedung Darma Romansha: Membaca Puisi Adalah Kerja Intelektual

Minggu (25/02) malam lalu aku datang di peluncuran buku puisi Kedung Darma Romansha berjudul Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Banyak pembahasan menarik dalam acara diskusi tersebut yang terpantik dari interaksi para pembicara dan penanya. Di bawah ini poin-poin yang sempat kucatat dari Joko Pinurbo (Jokpin) dan Kedung Darma Romansha pada sesi ulasan dan tanya jawab.

Catatan dari sesi bicara Jokpin

Iklan

Tentang #AADC2

Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain.

(Batas, M Aan Mansyur)

Begitu pula tiket bioskop, lembaran antara kursi penonton satu dengan penonton lainnya, juga antara halaman buku yang sudah dan belum dibaca.

Mungkin itu alasan #tidakadanewyorkhariini terbit tanpa Baca lebih lanjut

Melihat Hidayah Bekerja

Lagu. Suatu malam aku ke Indomaret dekat rumah dan sudah biasa kalau di sana terdengar lagu atau siaran radio dari speaker di sudut-sudut ruangan. Malam itu aku dengar satu lagu yang mengingatkanku pada obrolan empat tahun lalu dengan seorang rekan kerja, mbak-mbak perawat, waktu aku masih bekerja di lingkup rumah sakit. Obrolan kami jadi nyambung gara-gara sama-sama suka nulis. Aku waktu itu sudah menerbitkan satu buku, sedang dia sudah mengirimkan naskah ke salah satu penerbit ternama di Jogja namun belum ada kejelasan diterbitkan.

Lagu yang kudengar di Indomaret malam itulah yang dulu sayup terdengar di ruang apotek rumah sakit tempat kami ngobrol. Di tengah obrolan kami dia menyela, “Aku suka, nih, lagu ini. Bagus temanya,” sambil ia melanjutkan catatan tugasnya. Kupikir waktu itu lagu apa pun urusannya adalah asal enak didengar, sebagai komoditas jualan musisi dan label rekaman.

Di Indomaret malam itu rasanya beda dengan empat tahun lalu mendengarnya. Rasanya jadi paham perkataan Baca lebih lanjut

Menyambut Janji

*Catatan dari Tulisan Dokter #3

Dalam bab Foto Eben membahas tentang salah satu pesan yang ia tangkap saat berada di dunia Gerbang dan Inti, “Kau dikasihi.”

Terkondisi yatim piatu sejak kecil, Eben merasa bahwa kata itulah yang perlu ia dengar sejak kecil. Namun, menurut Eben, pesan itu juga perlu didengar oleh siapa pun kita pada zaman materialistis ini ketika dihadapkan pada siapa sebenarnya kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi, untuk menyadari bahwa sebenarnya kita keliru kalau merasa yatim piatu. Kita tidak akan pernah merasa kehilangan.

“Tanpa memulihkan memori akan keterhubungan kita yang lebih besar dan akan kasih tak bersyarat dari Sang Pencipta, kita akan selalu merasa kehilangan di bumi ini.” (Proof of Heaven, Foto)

Pada akhirnya Eben kembali menyadari bahwa dirinya adalah Baca lebih lanjut

Seperti Bikin Anak

Pendapat orang tentang suatu karya seni bisa berbeda-beda. Setiap orang dapat melihatnya dengan sudut pandang masing-masing. Namun apa yang menjadi landasan berkarya dari seniman juga menarik untuk disimak.

Tengah Maret lalu diluncurkan sebuah buku tentang pelukis Affandi di Sangkring Art Space, Bantul, Yogyakarta. Pak Djon, sopir dan asisten pribadi Affandi, adalah narasumber utama buku tersebut. Menarik ketika Pak Djon mengungkap bahwa Affandi merasa keberatan disebut seniman. Ia hanya ingin disebut tukang gambar. Karena menurut Affandi terdapat tiga tingkatan besar, yaitu pertama: Tuhan, kedua: Rasul, ketiga: Seniman.

Beberapa lukisan Affandi lalu ditayangkan pada layar di panggung dan Pak Djon menjelaskan maksud lukisan-lukisan itu. Lukisan-lukisan Affandi tersebut diantaranya Baca lebih lanjut

Dimatikan Untuk Menghidupkan

*Catatan dari Tulisan Dokter #1

Di sela hari-hari membaca buku ini aku mendapat kabar meninggalnya saudara dari salah seorang temanku. Sebelum meninggal, saudara temanku tersebut kabarnya sempat mengalami koma selama beberapa waktu yang disebabkan virus yang menyerang otaknya. Meningitis. Virus meningitis menjadi salah satu “tokoh utama” dalam buku yang kubaca tersebut, Proof of Heaven.

Bagaimana rasanya mengalami koma? Apakah sama pengalaman setiap orang yang koma? Eben Alexander, MD menuliskan pengalaman komanya selama terjangkit virus meningitis dalam buku ini. Eben yang dokter spesialis bedah saraf menyebut pengalaman ini sebagai near-death experience (NDE).

IMG_20140312_144631

Eben kerap menangani pasien-pasien yang mengalami NDE. Namun baginya, Baca lebih lanjut