Dicangar Obat #ceritapaman

Standar

Sampai dengan tulisan ini ditulis Upi masih batuk berdahak. Dahak belum keluar betul dari tenggorokannya. Mungkin juga karena dia masih dua tahun, belum punya kesadaran bagaimana mengeluarkan dahak dari tenggorokan seperti orang dewasa. Kasihan juga, sih, kalau lihat wajahnya pas batuk berat gitu.

image

Disuapin ibunya makan puding pelangi yang barusan kubelikan. Puding yang ia minta sendiri dalam kondisi susah makan waktu sakit.

Obat yang harus diminumkan, yaitu Lanjutkan membaca

Terharu #ceritapaman

Standar

Sore kemarin waktu aku bekerja dengan laptop anak ini dengan tergagap menanyaiku, “O..oo’..o’…. mii..ii…num apa?”

image

Nggak ketemu omnya dari sebelum bangun pagi sampai menjelang maghrib karena urusan kerjaan. Begitu aku pulang dibuntuti terus sampai di depan kamar mandi waktu bersih-bersih badan. Selesai itu nyandar tiduran dan nyanyi-nyanyi.

Haru menjalariku waktu melihat Lanjutkan membaca

Pengalih Perhatian #ceritapaman

Standar

“Om, kenapa?” tanya anak ini sambil makan kedelai rebus waktu melihatku menopang dahi di lengan tadi menjelang maghrib.

image

Itu foto bulan lalu pada waktu yang sama usai syukuran ulang tahun keduanya, di sela omnya ngos-ngosan beresin lagi isi rumah dan dianya sampai malam masih aktif gerak bak diisi baterai alkaline.

“Itu om capek itu,” jawab omnya satu lagi, adikku, yang juga sedang makan kedelai rebus.

Aku lalu cengengesan ngeliatin
Lanjutkan membaca

Menyesap Manis Film Galih & Ratna

Standar
image

CD album soundtrack Galih & Ratna

Manis adalah kata ganti untuk film ini. Begitu pikirku. Ambillah beberapa adegan secara acak, misal adegan perkenalan Ratna dan Galih dengan iringan lagu Dari Rindu Kepada Rindu bervokal lembut, lirik Hampir Sempurna dalam lagu pertama yang didengar Ratna di angkot dari mixtape pemberian Galih, hingga adegan penutup film ini. Ya nggak cuma manis juga, sih, ngakaknya juga dapet.

Sebentar, apakah nggak ngerasain masa seragam putih abu-abu seperti dalam film itu patut kusesali? Lha gimana, aku di sekolah kejuruan berbasis teknik yang hampir semua muridnya laki-laki. Paling nggak aku bersyukur karena nggak suka sama sesama jenis. Lagipula nggak ada murid manis-manis jambu–limited edition macam Ratna di sekolahku.

Aku sempat curiga sepanjang nonton filmnya, jangan-jangan tokoh Ratna itu Lanjutkan membaca