Menyesap Manis Film Galih & Ratna

image

CD album soundtrack Galih & Ratna

Manis adalah kata ganti untuk film ini. Begitu pikirku. Ambillah beberapa adegan secara acak, misal adegan perkenalan Ratna dan Galih dengan iringan lagu Dari Rindu Kepada Rindu bervokal lembut, lirik Hampir Sempurna dalam lagu pertama yang didengar Ratna di angkot dari mixtape pemberian Galih, hingga adegan penutup film ini. Ya nggak cuma manis juga, sih, ngakaknya juga dapet.

Sebentar, apakah nggak ngerasain masa seragam putih abu-abu seperti dalam film itu patut kusesali? Lha gimana, aku di sekolah kejuruan berbasis teknik yang hampir semua muridnya laki-laki. Paling nggak aku bersyukur karena nggak suka sama sesama jenis. Lagipula nggak ada murid manis-manis jambu–limited edition macam Ratna di sekolahku.

Aku sempat curiga sepanjang nonton filmnya, jangan-jangan tokoh Ratna itu Baca lebih lanjut

Father and Son

Ada tiga versi lagu Father and Son ciptaan Cat Stevens (sekarang Yusuf Islam) yang pernah kudengar, yaitu versi asli yang dinyanyikannya sendiri, versi duet dengan Ronan Keating, dan versi Boyzone. Versi Ronan Keating feat. Yusuf Islam yang aku sukai.

Di luar bahwa lagu tahun 70-an ini membingkai permasalahan sepanjang masa antara ayah dan anaknya, ada hal yang menurutku menarik terkait proses penciptaan lagu ini. Cat Stevens menciptakan lagu ini sebenarnya untuk Baca lebih lanjut

Tresna Waranggono

11

Suatu sore seorang petugas keamanan di tempatku pernah bekerja bercerita kepadaku di bilik pos jaganya. Terdengar volume tinggi alunan lagu dangdut yang bersumber dari ponselnya karena dihubungkan ke speaker besar.

Aku tau ngrungoake lagu iki nganti mbrebes mili (aku pernah dengerin lagu ini sampai-sampai mataku berair),” akunya sambil menunjukkan lirik lagu yang terdengar yang dengan rapi ditulisnya kembali, lalu kufoto lirik itu untuk kusimak nantinya. Mas yang ngobrol denganku ini badannya kekar dan bertato.

Itu yang kusukai dari pencipta lagu. Lirik dan nada yang digagasnya mampu menyentuh sisi tak tampak manusia.

#30hbcprofesi

Nonton Jikustik Lagi Setelah 9 Tahun

image

saat kau tak ada // atau kau tak di sini // terpenjara sepi kunikmati sendiri // tak terhitung waktu ‘tuk melupakanmu //aku tak pernah bisa // aku tak pernah bisa

Jum’at malam nggak jadi nonton Barasuara, besoknya mendadak nonton Jikustik. Lalu Brian lewat di depanku untuk mbribik salah satu penonton cewek, yang cantiknya glow in the dark, dengan lagu Saat Kau Tak di Sini. Adegan itu bisa dilihat di Saat Kau Tak di Sini.

Belakangan, sebelum di jalan ketemu poster konser ini, aku sedang

Baca lebih lanjut

Melihat Hidayah Bekerja

Lagu. Suatu malam aku ke Indomaret dekat rumah dan sudah biasa kalau di sana terdengar lagu atau siaran radio dari speaker di sudut-sudut ruangan. Malam itu aku dengar satu lagu yang mengingatkanku pada obrolan empat tahun lalu dengan seorang rekan kerja, mbak-mbak perawat, waktu aku masih bekerja di lingkup rumah sakit. Obrolan kami jadi nyambung gara-gara sama-sama suka nulis. Aku waktu itu sudah menerbitkan satu buku, sedang dia sudah mengirimkan naskah ke salah satu penerbit ternama di Jogja namun belum ada kejelasan diterbitkan.

Lagu yang kudengar di Indomaret malam itulah yang dulu sayup terdengar di ruang apotek rumah sakit tempat kami ngobrol. Di tengah obrolan kami dia menyela, “Aku suka, nih, lagu ini. Bagus temanya,” sambil ia melanjutkan catatan tugasnya. Kupikir waktu itu lagu apa pun urusannya adalah asal enak didengar, sebagai komoditas jualan musisi dan label rekaman.

Di Indomaret malam itu rasanya beda dengan empat tahun lalu mendengarnya. Rasanya jadi paham perkataan Baca lebih lanjut

Melambatkan Frekuensi #2

Itu pemandangan tadi sore di jalan yang kulewati sepulang kerja. Tepatnya jalan I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Yogyakarta. Aku suka lewat sini karena jika sore sedang cerah maka aku mendapati pemandangan menawan matahari jelang sunset.

Sering aku terpikir untuk melintasi jalanan yang sering kulalui dengan kendaraan bermotor dengan berjalan kaki. Sederhananya, aku cuma ingin melihat dengan lebih lambat dan lebih dekat sesuatu yang biasanya kulihat dengan cepat. Kurasa memang harus disempatkan, misal jalan kaki dari rumahku di dekat Malioboro sampai kantor di timur Monumen Jogja Kembali.

Bukan tidak mungkin pada sesuatu yang biasa kita lihat dari frekuensi perputaran roda yang cepat terdapat Baca lebih lanjut